Breaking News
Loading...

Socialmedia

Seputar Kabar Artis

Sorot

HEADLINEWS

Aug 11, 2017
Nenek Moyang Manusia di Indonesia Jadi Saksi Letusan Dahsyat Toba

Nenek Moyang Manusia di Indonesia Jadi Saksi Letusan Dahsyat Toba

Nenek Moyang Manusia di Indonesia Jadi Saksi Letusan Dahsyat Toba
Komunitas ilmu pengetahuan yang mendalami sejarah manusia purbakala kembali dikejutkan dengan temuan terbaru yang didapat dari Indonesia.
Sekelompok arkeolog berhasil menemukan fosil terbaru yang mampu menambah fakta ilmiah mengenai eksistensi awal homo sapiens di Asia Tenggara.

Temuan terbaru itu juga menambah fakta sains mengenai kondisi ekosistem terkait letusan gunung berapi super di Toba, Sumatera, pada 69.000 - 77.000 tahun lalu.


Erupsi super itu merupakan penyebab terbentuknya kawah besar yang kemudian terisi air, atau yang kini kita kenal sebagai Danau Toba.

Namun, erupsi masif itu juga menimbulkan efek bencana mahadahsyat. Diperkirakan, sekitar 60 persen makhluk hidup binasa pada saat itu.

Meski begitu, sebelum bukti baru ditemukan, ilmuwan meyakini bahwa manusia belum eksis kala letusan katastropik itu terjadi. Namun, cara pandang itu mungkin akan mengalami perubahan.
Berdasarkan temuan teranyar, tim peneliti dari Australia menyimpulkan bahwa sekelompok manusia telah hadir di kawasan Asia Tenggara dan Sumatera pada periode yang sama dengan letusan gunung berapi super Toba terjadi.
Ini berarti, kala erupsi mahadahsyat itu berlangsung, homo sapiens diduga turut menjadi saksi.

Terobosan hipotesis itu diperoleh setelah tim peneliti menemukan sejumlah fosil baru berupa gigi manusia di Gua Lida Ajer, Dataran Tinggi Padang, Sumatera Barat. Demikian seperti yang dilansir dari Newsweek, Kamis (10/8/2017).

"Ada kemungkinan kecil bahwa sekelompok manusia yang bermigrasi berhasil tiba di Sumatera tepat sebelum super erupsi Toba terjadi. Namun, besar kemungkinan pula mereka tiba di sana setelah bencana itu," ujar Kira Westaway, anggota tim peneliti dari Macquarie University Australia.

Telaah itu juga merombak hasil temuan sebelumnya yang menyebut bahwa manusia homo sapiensbaru ada di kawasan Sumatera dan Asia Tenggara sekitar 45.000 - 60.000 tahun lalu. Temuan terbaru itu mendorong jauh periode eksistensi manusia di Indonesia hingga sekitar 20.000 - 30.000 tahun lamanya.

"Temuan awal menunjukkan bahwa homo sapiens tiba di Kalimantan pada 45.000 tahun yang lalu. Namun, temuan terkini mendorong jauh kehadiran mereka hingga 20.000 tahun lamanya," jelas Kira Westaway. Atau dengan kata lain, nenek moyang manusia tiba di nusantara sekitar 65.000 tahun lalu.
Analisis fosil gigi teranyar itu juga menunjukkan bahwa homo sapiens yang kala itu hidup di kawasan Asia Tenggara, tinggal di lingkungan hutan hujan lebat seperti Sumatera dan Borneo (Kalimantan).
Hipotesis teranyar dianggap dapat merombak perspektif tradisional mengenai pola gaya hidup dan migrasi manusia.

Perspektif tradisional menyebut bahwa manusia melakukan pola migrasi melalui jalur pesisir pantai yang dianggap lebih aman ketimbang kawasan hutan. Rute yang diambil oleh nenek moyang manusia kala itu adalah bertolak dari Afrika Selatan untuk menyisir pesisir pantai timur Benua Hitam menuju ke utara.

Saat tiba di Tanduk Afrika di utara, nenek moyang homo sapiens kemudian melintas dan menyebar ke Eropa, Timur Tengah, Asia Barat, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Tenggara, hingga ke Australia.
Pola migrasi yang panjang itu membuat manusia lebih sering tinggal di wilayah pesisir. Kawasan itu juga diyakini lebih aman dan penuh dengan penyokong hidup ketimbang wilayah hutan.
Akan tetapi, temuan fosil di Gua Lida Ajer menunjukkan bahwa ada sekelompok manusia yang hidup di dan bermigrasi melalui jalur hutan. Temuan itu menjadi kejutan tersendiri bagi para ilmuwan.
"Hutan hujan memerlukan keahlian hidup yang sulit, karena membutuhkan inovasi dan teknologi yang canggih," tambah Westaway.

"Menemukan bukti kehidupan mereka di hutan menunjukkan betapa telah sangat berkembangnya homo sapiens kala itu dari segi keahlian dan kecerdasan," pungkasnya.
Hasil temuan dirilis dalam jurnal ilmiah Nature, International Weekly Journal of Science pada 9 Agustus 2017.

"Temuan di Gua Lida Ajer itu menyajikan mata rantai yang hilang, menjadi bukti kehadiran manusia modern di Asia Tenggara sekitar 63.000 hingga 73.000 tahun lalu. Temuan itu merupakan hasil yang fantastis terkait situs kehidupan manusia di kawasan, pola gaya hidup, serta pola migrasi mereka," jelas Chris Clarkson, ketua tim peneliti.

Ilmuwan lain memberikan opini ilmiah guna menanggapi penelitian teranyar itu. Michelle Langley dari Griffith University Brisbane Australia menekankan agar telaah yang lebih komprehensif harus terus dilakukan, terutama terkait hipotesis mengenai homo sapiens awal yang hidup di hutan hujan Sumatera dan Borneo.

"Penemuan gigi di sana, tanpa ada temuan artefak atau bekas habitasi lain, tidak serta-merta menunjukkan bahwa mereka menjalani hidup dan memanfaatkan sumber daya di dalam hutan," jelas Langley.
"Bisa saja mereka hanya sekedar lewat wilayah itu." ( sumber)

Kasus Pria Bekasi Dibakar Hidup-Hidup Bikin Dunia Prihatin

Kasus Pria Bekasi Dibakar Hidup-Hidup Bikin Dunia Prihatin

Kasus Pria Bekasi Dibakar Hidup-Hidup Bikin Dunia Prihatin
Insiden pria dibakar hidup-hidup yang dituduh mencuri amplifier di musala Kampung Cabang Empat, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, menuai keprihatinan dunia.

Melalui artikel "Man accused of stealing speakers from mosque beaten and burned alive by angry mob in Bekasi", media Filipina Coconut mengangkat kisah tersebut. Menuliskan bahwa pada hari nahas itu, pria berusia 30 tahun bernama Alzahra alias Joya itu hendak meninggalkan Musala Al Hidayah dengan tiga amplifier.

Media Malaysia, Astro Awani, yang dikutip Rabu (9/8/2017), mengulas pendapat sang anak tentang ayahnya yang menjadi korban pembakaran melalui artikel "Why was dad grilled like a chicken?".
Alif Saputra, putra sulung M Alzahra alias Joya masih sulit melupakan sosok ayahnya sepekan kepergian almarhum. Bocah berusia 4 tahun itu kerap menanyakan keberadaan sang ayah yang tewas dibakar hidup-hidup oleh warga.

Ia kerap bolak-balik mencari keberadaan ayahandanya yang meninggal akibat ulah massa setelah menuduhnya mencuri amplifier.
Menurut istri korban, Siti Jubaida (25), putranya itu sejatinya belum mengerti arti kematian. Alif hanya suka bertanya, mengapa ayah yang bekerja sebagai tukang reparasi sound system tersebut diamuk dan diperlakukan tak manusiawi.

Pertanyaan itu dilontarkan saat Alif dan ibunya menyekar pusara Alzahra alias Joya. "Abi kok dibakar, emang ayam," kata Jubaida menirukan ucapan Alif.
Secara perlahan, perempuan yang tengah mengandung 6 bulan itu meneteskan air matanya. "Saya tak kuat, ia ngomong itu terus," ucap Jubaida.

Media Malaysia lainnya, The Star, membuat video singkat terkait peristiwa tragis tersebut.
Dari Nigeria, Premium Times, juga ikut mengangkat kisah tragis tersebut. Melalui tulisan "Indonesian mob set man on fire for stealing mosque amplifier", diulas bagaimana peristiwa itu terjadi.
M Alzahra alias Joya tewas mengenaskan. Joya menjadi korban amukan massa dan dibakar hidup-hidup setelah dituduh mencuri amplifier Musala Al-Hidayah di Babelan, Bekasi.
Dia meninggalkan istri yang tengah hamil dan seorang putra berusia 4 tahun. Bocah itu kerap menanyakan keberadaan sang ayah. Sang istri, Jubaidah meminta kepada penegak hukum agar para pengeroyok yang menewaskan Joya diproses secara adil. (sumber)
Jul 14, 2017
Begini NARKOBA SABU:Cara Mafia Narkoba Taiwan Membawa Sabu Senilai Hampir Rp 2 Triliun Masuk Pulau Jawa

Begini NARKOBA SABU:Cara Mafia Narkoba Taiwan Membawa Sabu Senilai Hampir Rp 2 Triliun Masuk Pulau Jawa

Begini Cara Mafia Narkoba Taiwan Membawa Sabu Senilai Hampir Rp 2 Triliun Masuk Pulau Jawa
Polda Metro Jaya mengungkap penyelundupan sabu seberat 1 ton dari Tiongkok melalui Anyer
Empat orang mafia sabu warga negara Taiwan berupaya memasukkan 1 ton sabu dalam 51 kotak kemasan, dari China ke Indonesia melalui jalur laut.

Aksi mereka berhasil digagalkan Tim Gabungan Satuan Tugas Merah Putih dari Polda Metro Jaya dan Polresta Depok di dermaga eks Hotel Mandalika di Jalan Anyer Raya, Serang, Banten, Kamis (13/7/2017).
Dari empat pelaku, seorang atas nama Lin Ming Hui yang berperan sebagai bos atau pengendali kawanan ini, ditembak mati petugas, karena melakukan perlawanan saat akan dibekuk.

Dua pelaku lain yakni Chen Wei Cyuan dan Liao Guan Yu menyerah dan ditangkap hidup-hidup.
Sementara satu pelaku lainnya Hsu Yung Li berhasil kabur dan masih dalam pencarian petugas.
Wakil Kepala Kepolisian Resor Kota Depok Ajun Komisaris Besar Faizal Ramadhani mengatakan kawanan mafia sabu asal Taiwan ini memasukkan sabu dari Taiwan ke Indonesia dengan memanfaatkan jalur laut.

Awalnya, kata dia, sabu dikirim dari Taiwan menggunakan kapal besar.
"Kemudian sabu dipindahkan ke perahu kecil atau perahu karet, saat kapal berada di tengah laut," kata dia, Kamis.

Dengan beberapa perahu kecil, kemudian sabu dibawa dan dilabuhkan di dermaga tepi laut di eks Hotel Mandalika di Jalan Anyer Raya, Serang, Banten.
Di sana, ke 51 kotak kemasan besar berisi sabu tersebut, dimasukkan dalam dua mobil innova.

"Kali ini aksi mereka berhasil kami gagalkan setelah sekitar dua bulan tim melakukan pemantauan. Kami dapatkan informasi awal penyelundupan sabu ini dari kepolisian Taiwan," kata Faizal.
Menurut Faizal dari cara dan aksinya dipastikan kawanan mafia sabu ini sudah lebih dari sekali menyelundupkan sabu ke Indonesia.
"Kami akan dalami lagi sudah berapa kali mereka menyelundupkan sabu ke Indonesia, termasuk berapa banyak setiap kali pengiriman," katanya.

Dari anyer, kata dia, sabu biasanya dibawa ke Jakarta untuk diedarkan ke Pulau Jawa.
"Terutama sabu mereka diedarkan di kawasan Jabodetabek," kata Faizal.
Kasat Narkoba Polresta Depok Komisaris Kholis Aryana menyebutkan tim gabungan menerima informasi rencana ini sejak lima pekan lalu.
Selama itu pula atau sekitar dua bulan lebih, katanya, penyelidikan dilakukan.
"Diperkirakan nilai 1 ton sabu yang mereka selundupkan ini mencapai Rp 2 Triliun," kata Kholis.
Kasubag Humas Polresta Depok AKP Firdaus menuturkan awalnya Tim Gabungan Satgas Merah Putih mendapatkan informasi dari Kepolisian Taiwan bahwa akan ada pengiriman narkoba jenis sabu-sabu dari China ke wilayah Indonesia.
"Kemudian tim melakukan penyelidikan selama 2 bulan lebih hingga melakukan penangkapan," katanya.

Dalam penyelidikan katanya tim gabungan terus memonitor, melacak dan mengintai kelompok mafia sabu asal Taiwan, yang diduga termasuk dalam jaringan pengedar sabu internasional ini.
"Akhirnya kita bekuk para tersangka di dermaga eks Hotel Mandalika, di Jalan Anyer Raya, Serang, Banten, Kamis 13 Juli 2017," kata Firdaus.
Para tersangka adalah Lin Ming Hui yang berperan sebagai bos atau pengendali kawanan ini.

"Yang bersangkutan terpaksa ditembak mati petugas, karena melakukan perlawanan saat dilakukan penangkapan," katanya.

Sedangkan dua pelaku yang lainnya berhasil dibekuk adalah Chen Wei Cyuan dan Liao Guan Yu.
Sementara satu pelaku lainnya Hsu Yung Li berhasil kabur dan masih dalam pencarian petugas.
Ia menjelaskan rincian sabu dalam kemasan kotak yang disita pihaknya adalah sebanyak 27 kotak di mobil inova gold dan 24 kotak di mobil innova hitam.

"Totalnya ada 51 kotak dengan berat brutto sekitar 1 ton," kata Firdaus.
Pengungkapan ini kata Firdaus dipimpin langsung oleh Dirnarkoba Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta, beserta Kapolresta Depok Kombes Herry Heryawan.(bum) ( sumber )




Back To Top