Breaking News
Loading...

Socialmedia

Seputar Kabar Artis

Sorot

HEADLINEWS

Apr 19, 2017
Serangan AS Akan Dibalas Aksi Penculikan Warga Barat oleh Korut?

Serangan AS Akan Dibalas Aksi Penculikan Warga Barat oleh Korut?


Serangan AS Akan Dibalas Aksi Penculikan Warga Barat oleh Korut?
Korea Utara diam-diam melatih pasukan khusus untuk menculik warga Barat dari Korea Selatan. Demikian klaim seorang pembelot Korut Ung-gil Lee.
Menurutnya, jika Amerika Serikat menyerang Korut maka regu penculik bersenjata akan menerobos perbatasan Korsel untuk menculik diplomat, wisatawan, dan pengusaha asing. Ung-gil yang membelot ke Korsel setelah bertugas selama enam tahun di salah satu unit pasukan khusus lebih lanjut menekankan bahwa korban penculikan tidak akan selamat.


Korut memiliki sejarah penculikan terhadap warga negara asing. Pada tahun 1970-an bintang film terkemuka Korsel Choi Eun-hee dan Shin Sang-ok, produser dan sutradara ditawan setelah mereka membuat film yang menggambarkan kekejaman rezim Korut. Tujuh tahun kemudian mereka berhasil kabur.
Pengakuan Ung-gil ini muncul di tengah situasi panas di Semenanjung Korea. Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah berjanji akan "menangani" Korut sendiri jika China enggan membantu.
AS telah mengirimkan armada kapal induk USS 

Carl Vinson ke Semenanjung Korea. Langkah ini direspons Kim Jong-un dengan peringatan, Korut siap membalas berbagai mode perang yang diinginkan AS.
Ung-gil merupakan mantan kopral di Korps 11th Storm. Ia mengklaim mantan rekan-rekannya telah dilatih untuk melancarkan serangan teror gaya ISIS. Pria berusia 37 tahun itu memperingatkan Trump, bahwa Jong-un akan memberikan respons berbeda dari yang ditunjukkan oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad pasca-serangan rudal Tomahawk AS.
"Dia (Jong-un) akan melawan dan menggunakan semua opsi tindakan balasan. Kecuali Trump benar-benar berpikir bisa menyingkirkan dia, maka sebaiknya dia tidak melancarkan serangan," ujar Ung-gil kepada Mail on Sunday seperti dilansir Daily Mail, Senin, (17/4/2017).
Ung-gil menceritakan bahwa ia bergabung dengan pasukan khusus Korut pada usia 17 tahun setelah sebelumnya mengalami "cuci otak" selama satu tahun. Setidaknya, ia digembleng lima tahun sebagai petugas komunikasi.
Korut diperkirakan memiliki 200.000 anggota pasukan khusus yang terdiri dari pria dan wanita di mana 140.000 di antaranya berada di kelompok infanteri dan 60.000 lainnya di Korps 11th Storm. Mereka dikenal karena pelatihannya yang ekstrem, mencakup adu tinju sebelum makan malam setiap malam, meninju pohon, dan berenang di laut beku.
Unit pasukan elite ini juga dilatih untuk menyusup ke Korut melalui udara, laut, dan jaringan terowongan yang dibangun oleh para pekerja paksa. Ung-gil mengaku ia merupakan bagian dari kelompok udara dan darat di mana tugas mereka adalah menghancurkan infrastruktur, menganggu jalan-jalan dan pelabuhan, serta menculik warga negara asing.
"Kami akan menyelinap ke Korsel, menyamar dengan pakaian, pergi ke wilayah di mana banyak orang asing dan menculik beberapa dari mereka. Kami hafal lokasi, nomor telepon, dan plat mobil kedutaan," terang Ung-gil.
Kelompoknya juga diajarkan untuk menghafal rincian tentang sistem telepon seluler dan dipersenjatai dengan racun saraf dan senjata konvensional.
"Saya membawa neostigmine bromide dan potasium sianida. Mereka yang terkena obat ini akan mati layaknya menderita serangan jantung. Ini dibawa untuk menyerang atau melakukan aksi bunuh diri," ungkap pria yang kini berprofesi sebagai penasihat keuangan di Seoul.
Neostigmine bromide, lima kali lebih mematikan dibanding potasium sianida. Agen Korut sebelumnya telah menggunakan senjata kecil atau pena beracun dalam pembunuhan seorang diplomat Korsel dan upaya pembunuhan seorang pembangkang.
"Ini merupakan misi bunuh diri. Jelas kami harus kembali, jika tidak, kami harus bunuh diri," imbuhnya.
Korut memiliki 1,2 juta tentara dan nyaris delapan juta tentara cadangan. Sementara Korsel memiliki setengah dari jumlah tersebut, namun dengan catatan persenjataan yang jauh lebih baik ditambah dukungan 28.500 pasukan AS.
Ung-gil juga mengisahkan selama menjalankan tugas militernya ia meyakini misinya adalah melindungi dinasti Korut yang dibayangi ancaman Korsel dan AS. Namun keyakinannya memudar setelah ia menonton film asing hasil selundupan. Seketika doktrin yang ditanamkan padanya hilang.
"Film Amerika yang pertama saya tonton adalah Saving Private Ryan. Saya terkesima. Saya diajarkan bahwa hanya kami (Korut) yang memiliki persaudaraan dan kehormatan, namun saya lihat orang Amerika punya rasa cinta, humor, dan persaudaraan yang tinggi. Saya mulai berpikir bahwa semua yang diajarkan di militer palsu," tutur pria itu.
Pada satu titik, ia bersedia mati bagi Korut. Namun semakin tahu ia tentang rezim, semakin marah pula ia.
"Merupakan hal benar untuk menyebut Korut sebagai bagian dari Poros Setan. Pemimpinnya lebih buruk dari seluruh kombinasi diktator di Libya, Irak, dan Suriah," imbuhnya. ( source )
Apr 16, 2017
Korea Utara: Kami Siap Pukul Balik AS dengan Serangan Nuklir

Korea Utara: Kami Siap Pukul Balik AS dengan Serangan Nuklir

Korut: Kami Siap Pukul Balik AS dengan Serangan Nuklir
Para serdadu yang berbaris rapi, konvoi kendaraan-kendaraan tempur, tak ketinggalan rudal-rudal terbaru dipamerkan Korea Utara dalam parade militer di Pyongyang, Sabtu 15 April 2017.
Parade unjuk kekuataan itu diselenggarakan pada peringatan 105 tahun kelahiran sang pendiri negara, Kim Il-sung. Sekaligus di tengah spekulasi bahwa Kim Jong-un akan memerintahkan uji coba senjata nuklir yang bikin Semenanjung Korea kian membara.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan sampai merasa perlu mengirim armada tempurnya ke Semenanjung Korea.

Bom GBU-43/B yang dikenal dengan julukan 'mother of all bombs' (MOAB) yang dijatuhkan AS ke basis ISIS di Afghanistan bahkan dilaporkan sebagai 'pesan terselubung' untuk Korea Utara.
Sebaliknya, Korut mengaku telah siap siaga. "Kami siap untuk menanggapi perang habis-habisan dengan perang habis-habisan," kata pejabat militer Korea Utara Choe Ryong-Hae, seperti dikutip dari BBC, Sabtu (15/4/2017).
"Kami siap memukul balik dengan serangan nuklir versi kami terhadap setiap serangan nuklir," tambah dia.
Pernyataan diungkapkan pihak Pyongyang di tengah tabuhan band militer dan parade pasukan yang berbaris menuju Lapangan Kim Il-sung di jantung ibu kota.




Dalam parade juga ditampilkan apa yang diduga sebagai rudal balistik kapal selam atau submarine-launched ballistic missiles (SLBMs) -- yang bisa dikembangkan membawa hulu ledak nuklir yang mampu mencapai target di seluruh dunia.

Dunia khawatir jika Korut kian dekat dengan keberhasilan memproduksi senjata nuklirnya sendiri.
Sebaliknya, pihak Pyongyang beranggapan, program senjata nuklir penting untuk masa depan mereka -- sehingga mereka meneruskannya dengan mengabaikan tekanan dari AS.
Korea Utara telah melakukan lima uji coba nuklir dan serangkaian peluncuran rudal. Sejumlah ahli dan pejabat pemerintah berbagai negara percaya, rezim Kim Jong-un sedang mengembangkan rudal nuklir hulu ledak yang dapat mencapai Amerika Serikat.

China: Konflik Bisa Pecah Kapan Saja
Pada Jumat kemarin, Menteri Luar Negeri China Wang Yi memperingatkan, "konflik bisa pecah kapan saja."
Ia menambahkan, jika perang sampai bergelora, tak ada pihak manapun yang keluar jadi pemenang.

China, satu-satunya sekutu dekat Korut, khawatir jika konflik akan meruntuhkan rezim Kim dan menciptakan permasalahan di perbatasannya.
"Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dari memprovokasi dan mengancam satu sama lain, baik dalam kata-kata atau tindakan," kata Wang Yi. "Jangan biarkan situasi mencapai level tak bisa diubah dan dikendalikan."
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, jika China enggan, AS sendiri yang akan menyelesaikan masalah Korea Utara.
"Korea Utara sedang mencari masalah. Jika China memutuskan untuk membantu, itu akan luar biasa. Jika tidak, kita akan menyelesaikan masalah ini tanpa mereka! U.S.A," tulis Trump di akun Twitter pribadinya, @realDonaldTrump pada 11 April 2017. sumber Liputan6.com
HOt NEWS:Rusia dan Iran Peringatkan Serangan Balasan Jika AS...

HOt NEWS:Rusia dan Iran Peringatkan Serangan Balasan Jika AS...

Rusia dan Iran Peringatkan Serangan Balasan Jika AS...
Sebuah pernyataan yang dirilis oleh pusat operasi komando gabungan sekutu Suriah -- mencakup Rusia dan Iran -- memperingatkan Amerika Serikat, mereka tak sungkan merespons dengan kekuatan jika terjadi serangan lebih lanjut.

Mengacu pada pertahanan rezim Presiden Bashar al-Assad, kelompok itu juga memperingatkan bahwa mereka akan mendukung Suriah dan rakyatnya dengan segala cara yang dimiliki.

"Amerika Serikat melampaui batas dengan menyerang Suriah. Mulai sekarang kami akan merespons siapa pun, termasuk AS, jika menyerang Suriah. Amerika tahu persis kemampuan kami untuk merespons mereka dengan baik dan kami akan membalas tanpa mempertimbangkan setiap reaksi dan konsekuensi," demikian pernyataan kelompok tersebut seperti dilansir Abc News, Senin, (10/4/2017).
Pernyataan itu tidak merinci persis tindakan yang disebut melampaui batas atau respons seperti apa yang akan dilancarkan. Namun satu yang ditegaskan koalisi Iran dan Rusia bahwa mereka akan mengupayakan "pembebasan" Suriah dari penjajahan.
"Yakinlah bahwa kami akan membebaskan Suriah dari segala jenis pasukan pendudukan, tidak peduli dari mana mereka datang...Rusia dan Iran tidak akan membiarkan Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia," sebut pernyataan itu.
Selain itu, dalam pernyataan tersebut disampaikan pula bahwa sekutu Suriah mengikuti dengan saksama pergerakan dan keberadaan pasukan AS di utara Suriah dan barat laut Irak. Menurut mereka, militer AS tersebut akan menjadi pasukan pendudukan.
Rusia dan Iran telah mendukung rezim Assad dalam enam tahun terakhir, sepanjang perang saudara berlangsung di negara itu. Kebalikannya, Barat mendukung kelompok pemberontak yang menginginkan kejatuhan pemerintah.
Serangan rudal Tomahawk AS ke Suriah yang dilakukan pada Jumat, 7 April lalu merupakan balasan atas serangan senjata kimia yang diduga dilakukan rezim Assad di Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib. Lebih dari 70 orang tewas, termasuk di antaranya anak-anak.
Sebelumnya, anggota Komite Intelijen Kongres asal Partai Demokrat Adam Schiff mengatakan, Rusia terlibat dalam serangan kimia di Suriah.
"Mereka benar-benar terlibat. Intelijen Rusia mungkin tidak sebaik kita (AS), tapi mereka cukup baik untuk tahu bahwa Suriah memiliki senjata kimia, menggunakan senjata kimia," terang Schiff.
Dugaan keterlibatan Rusia dalam serangan kimia di Idlib juga mencuat dalam wawancara dengan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson. Namun Tillerson mengatakan ia belum melihat bukti kuat campur tangan Rusia baik dalam perencanaan atau saat melancakan serangan.
Menlu Tillerson lebih lanjut mengungkapkan, dalam pertemuannya dengan Menlu Rusia, Sergey Lavrov, yang dijadwalkan akan berlangsung pekan ini, ia akan mendesak Moskow untuk memastikan rezim Assad menyingkirkan senjata kimia.( sumber )
Back To Top