Breaking News
Loading...

Socialmedia

Seputar Kabar Artis

Sorot

HEADLINEWS

Feb 27, 2015
Heboh Penemuan Batu Giok di Gorontalo, Bobot 10 Ton?

Heboh Penemuan Batu Giok di Gorontalo, Bobot 10 Ton?

Heboh Penemuan Batu Giok di Gorontalo, Bobot 10 Ton?
DEGORONTALO – Warga Kelurahan Donggala, Kota Gorontalo digegerkan oleh penemuan Batu Giok. Bobot batu simpang siur. ada yang menyebut tiga ton atau  lima ton, bahkan bisa mencapai 10 ton mengingat dasar batu itu tertanam jauh dalam tanah. ” Bisa jadi segitu bobotnya,” kata Razak Karim ,48, penemu batu giok itu.

Penemuan Batu Giok ini bermula saat Razak  tengah mencari bebatuan alam di bukit yang tak jauh dari rumah tempat tinggalnya. Merasa tertarik oleh salah satu batu yang ditemukannya di jalan, segeralah ia ambil dan dibawanya untuk dicek.“Pas ada pameran kemarin baru saya ambil sedikit, mereka bilang cuma batu biasa. Tapi setelah dibuat jadi cincin ternyata batu giok,” ujar Razak yang merupakan warga setempat itu.
Meski terletak di tengah bukit dan harus ditempuh selama 30 menit dengan berjalan kaki, kejadian ini tak ayal tetap mengundang rasa penasaran warga sekitar. Tidak sedikit warga dari kelurahan lain datang ke lokasi untuk melihat langsung penemuan ini.

Pihak kepolisian dan TNI pun diturunkan untuk berjaga-jaga di sekitar lokasi penemuan. Hingga saat ini, belum diketahui berapa total harga batu giok tersebut. Ada yang menaksir seharga lima miliar rupiah.
“Siapapun warga boleh ambil, yang penting harus minta izin dulu,baminta” tambah Razak kepada DeGorontalo.co Kini, sudah separuh dari batu itu berhasil dipecahkan. Razak berkongsi dengan sekitar 30 orang yang masih terhitung kerabatnya, membawa turun bongkahan demi bongkahan yang berhasil dipecahkan. Bongkahan –bongkahan besar itu dikumpulkan di rumahnya.

“Rencananya mau kami jual, 250 ribu rupiah perkilo, hasilnya nanti dibagi rata,” ujar pria tiga anak yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh serabutan itu.
Warna dari setiap bongkahan itu cukup beragam, ada yang hijau lumut, kuning juga putih. Sesuai nama lokasi ditemukan, Razak menamakan batu Giok itu sebagai “Batu Giok Huwali”.
Lika Liku Begal Komplotan Lampung (Part 2)

Lika Liku Begal Komplotan Lampung (Part 2)

JAKARTA - Standar kompetensi sangat diterapkan pembegal komplotan Lampung yang dikenal sadis. Setelah pelajaran dasar membegal dan mempraktikkannya dengan modus sebagai debt collector atau penagih utang kreditan motor dikuasai Serbo, pelajaran selanjutnya adalah membegal gaya Lampung.
Dalam aksi begal keduanya, pemuda asal Way Kanan, Lampung Utara, itu masih berperan sebagai joki motor. Sementara mentornya yang juga pimpinan komplotan Lampung, Thohir, mempraktikkan begal gaya lampung kepada Serbo. Caranya, setelah motor buruannya berhenti, Thohir langsung menebas tangan pengendaranya.

Baru di aksi ketiganya, Serbo benar-benar diuji dan mempraktikkan begal ala Lampung. Ujian pertamanya berjalan lancar. Serbo berhasil menebas tangan korban dan merampas motor lalu membawa kabur untuk pertama kalinya. Thohir memuji aksi Serbo yang gagah berani, ringkas dan taktis itu.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Heru Pranoto, mengakui betul kesadisan kelompok begal asal Lampung tersebut. Komplotan lain memang membawa senjata tapi hanya menakut-nakuti. Tapi kelompok lain membawa senjata untuk menyiksa korbannya. "Saya tak tahu kenapa mereka bisa begitu sadis," ujarnya di Polda Metro Jaya, Jumat (27/2/2015).

Serbo masih baru di lingkungan komplotan Lamping pimpinan Thohir. Namun, ikatan primordial kedaerahan membuat Serbo cepat akrab dengan keenam anggota komplotan Lampung. Ia bergabung akhir 2014, setelah kehilangan pekerjaan di pabrik garmen di Kabupaten Bogor. Kebetulan, satu anggota Thohir ditangkap polisi.

Dalam setiap aksinya, komplotan Thohir berjumlah tujuh orang. Karena kekurangan satu orang, Thohir pun kesulitan membagi tugas anggotanya agar operasi membegal mobil incaran berjalan lancar. Akhirnya, Serbo direkrut teman sekampungnya yang lebih dulu bergabung. Baca pelajaran pertama Serbo sebagai begal komplotan Lampung.dikutip via tribunnews.com

Bagi komplotan ini membegal motor tak terlalu serius, cuma sampingan tapi bisa tiap pekan dilakukan. Makanya setiap beraksi membegal motor paling hanya dilakukan tiga orang, dan tidak perlu menerjunkan satu tim yang terdiri dari tujuh orang. Operasi full team baru dilakukan jika targetnya mobil.
Korban Perdagangan Manusia: Saya 'Dinodai' 35 Tukang Ojek

Korban Perdagangan Manusia: Saya 'Dinodai' 35 Tukang Ojek

Korban Perdagangan Manusia: Saya 'Dinodai' 35 Tukang Ojek
PALEMBANG - Malang dialami gadis belia berusia 14 tahun ini. Ia telah menjadi korban human trafficking (Perdagangan Manusia) yang diduga dilakukan oleh seorang oknum TNI yakni MY.
Kasus ini terkuak ketika gadis tersebut ditemukan warga di bawah Jembatan Ampera Palembang saat digilir oleh "anak-anak aibon".

Melihat gadis itu tak berdaya, warga pun mengantarkannya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Palembang, untuk diberi pertolongan (diamankan), Kamis (26/2/2015) sekitar pukul 21.00.

Informasi yang berhasil dihimpun, pada Rabu (11/2/2015) lalu sekitar pukul 20.00, gadis ini pulang dari rumah ayahnya berinisial U yang ada di kota Palembang.
Ia mengaku tak tahan sudah diperkosa sang ayah sehingga minggat dari rumah ayahnya.
"Keluarga saya broken pak. Ibu dan ayah saya sudah cerai. Jadi sebelumnya, satu bulan yang lalu saya mencari ayah saya di Palembang. Sebelumnya saya tinggal dengan nenek di Baturaja," ungkap warga Batu Putih, Baturaja, OKU ini.

Karena ingin bertemu dengan sosok ayahnya, saat itu yang telah mengetahui alamat ayahnya, memberanikan diri untuk pergi ke Palembang dengan menumpang mobil travel

Namun bukan perlakuan yang baik didapatnya saat bertemu dengan sang ayah.
Selama satu minggu tinggal bersama ayahnya tersebut ia malah harus melayani nafsu bejat ayahnya.
"Ya tadinya saya pergi ke Palembang, ingin mendapatkan perlidungan dari sang ayah. Ingin disayangi seperti anak-anak yang lain. Tetapi sama saja, tidak di Baturaja tidak di Palembang saya di perkosa. Saya pergi ke Palembang, karena sering diperkosa om saya," katanya Jumat (27/2/2015).

Karena tak tahan terus diperkosa sang ayah, ia pun pada Rabu (18/2) sekitar pukul 18.00, kembali kabur dari rumah ayahnya.
Dengan bermodalkan uang Rp 20 ribu ia menumpang bus pergi ke rumah temannya di kawasan Timbangan 32, Indaralaya.
 
Namun saat tiba di sana, teman yang dianggapnya bisa menolongnya tidak bertemu.
Malangnya, ia malah bertemu dengan oknum TNI itu. Ia diajak berkenalan, tapi bukan pertolongan yang didapatnya. Ia malah diajak jalan-jalan dan digauli sebanyak satu lagi di kawasan Timbangan 32. Setelah itu, ditawari YM pekerjaan.

"Tiba di sana saya tidak bertemu teman saya. Lama menunggu, ada seorang TNI Itu. Dia mengajak saya berkenalan, lalu saya diajak jalan-jalan dengan diimingi mau dikasih pekerjaan. Tetapi setelah jalan-jalan, YM menggauli saya. Baru saya diantarkan di suatu tempat (masih di kawasan Timbangan 32-red) kepada Gemo," ungkapnya.

Di sana ia menjadi pelacur dan harus melayani nafsu bejat lelaki hidung belang.
"Sehari saya harus melayani 5 pria dengan tarif Rp 120 ribu, tetapi sebelumnya saya disuntik dulu agar tidak hamil. Uangnya saya buat makan dan simpan, 20 ribu untuk bayar Gemo. Katanya untuk bayar sewa kamar," bebernya lagi.

Tak tahan diperlakukan seperti itu, ia kembali kabur dari Gemo, Selasa (24/2), sekitar pukul pukul 19.30 menuju ke Palembang kembali menumpangi bus.
Setelah sampai diturunkan di bawah Jembatan Ampera oleh sopir. Ia yang tidak tahu harus kemana lagi, akhirnya bermalam di sana.

"Mau pulang ke rumah nenek saya tidak diterima lagi. Apalagi saat pergi ke rumah ayah. Saya mencuri uang Rp 150 ribu. Belum lagi harus melayani nafsu bejat om saya. Oleh karena itulah saya tidak tahu harus kemana lagi," ungkapnya sambil meneteskan air mata.
Setelah bermalam di bawah Ampera, karena tidak ada uang untuk makan, ia terpaksa menjual dirinya dengan tukang ojek.di kutip via tribunnews.com

"Saya tidak tahu harus bagaimana lagi pak. Uang saya sudah habis, untuk makan terpaksa saya jual diri. Selama tiga hari terhitung ada 35 lelaki hidung belakang (tukang ojek) yang menggauli saya. Saya dibawa ke hotel di kawasan 13 Ilir. Setelah dipakai, saya hanya dibayar Rp 15 ribu, setiap orang," bebernya.
Terakhir kali, sebelum dibawa ke Polresta Palembang, ia digauli oleh anak-anak aibon.
"Saya dibawa warga pak ke sini karena kasihan dengan saya saat saya digauli anak-anak aibon dibawa Jembatan Ampera," katanya.
Back To Top